Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Mukhlis Basri Minta Warga Lampung Tetap Siaga

Pesisir Barat Ungkapkasus.id

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian. Sebaran abu vulkanik dilaporkan menjangkau sejumlah wilayah, termasuk Lampung. Kondisi tersebut mendorong Anggota Komisi V DPR RI, Drs. H. Mukhlis Basri, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Imbauan tersebut disampaikan Mukhlis Basri setelah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait perkembangan aktivitas vulkanik dan dampaknya terhadap wilayah Lampung, Minggu (6/9/2026).

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas erupsi Anak Krakatau masih berlangsung. Salah satu erupsi pada Minggu dini hari, pukul 03.53 WIB, terekam dengan durasi sekitar 30 detik dan amplitudo maksimum 46 milimeter. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.

Sementara itu, laporan BMKG menunjukkan sebaran abu vulkanik bergerak mengikuti kondisi angin dan berdampak terhadap sejumlah wilayah. Abu vulkanik juga terpantau menyebar ke Lampung serta sejumlah wilayah lain di sekitar Selat Sunda.

Mukhlis: Jangan Panik, Tetap Waspada

Mukhlis Basri meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan.

“Sebagai wakil rakyat di Komisi V yang membidangi kebencanaan dan mitigasi, kami terus memantau perkembangan Anak Gunung Krakatau. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” ujar Mukhlis.

Ia meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial sebelum dipastikan kebenarannya.

Masyarakat diminta mengacu pada informasi dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah.

Empat Langkah yang Perlu Dilakukan Warga

Mukhlis menyampaikan sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Pertama, tetap tenang namun waspada. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan situasi melalui kanal resmi pemerintah dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kedua, menggunakan masker dan pelindung mata. Warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dan, bila diperlukan, kacamata pelindung. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian lebih.

Ketiga, melindungi sumber air dan pakan ternak. Tempat penampungan air sebaiknya ditutup agar tidak tercampur abu. Pakan ternak juga perlu dilindungi dari paparan abu vulkanik.

Keempat, meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Masyarakat di kawasan pesisir Selat Sunda diminta mengetahui lokasi dan jalur evakuasi serta menyiapkan perlengkapan darurat.

Pemerintah Daerah Diminta Aktifkan Kesiapsiagaan

Mukhlis juga mendorong pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Lampung memperkuat koordinasi serta kesiapsiagaan di wilayah yang berpotensi terdampak.

Posko siaga dan sistem penyampaian informasi kepada masyarakat dinilai penting agar warga mendapatkan informasi yang cepat dan akurat hingga tingkat desa.

Ia juga mendorong instansi terkait mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap infrastruktur, terutama saluran drainase dan sumber air baku.

Di sektor transportasi, pemantauan keselamatan pelayaran di kawasan Selat Sunda juga perlu terus dilakukan mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada di jalur perairan strategis tersebut.

Belajar dari Pengalaman Masa Lalu

Menurut Mukhlis, kondisi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak boleh dilakukan setelah bencana terjadi.

“Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah kunci. Pemerintah pusat dan daerah harus hadir dan memastikan masyarakat mendapatkan informasi serta perlindungan yang memadai,” tegasnya.

Hingga Minggu (6/9/2026), aktivitas Anak Krakatau masih menjadi perhatian pemerintah dan lembaga terkait. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan berbahaya serta terus memantau perkembangan melalui kanal resmi.

Jurnalis: Raden Majisin

Exit mobile version