Apresiasi Tembak Mati Begal, CLPD Tantang Kapolda: Sikat Bandar Pesawaran dan Lampung Timur, atau Ada Oknum Dapat Jatah?

LAMPUNG —Ungkapkasus.id

Tindakan tegas terukur aparat kepolisian yang menembak mati komplotan begal penembak polisi di Lampung memantik dukungan penuh. Keberanian petugas di lapangan yang tak segan merobohkan pelaku patut mendapat standing ovation. Namun, di balik letusan senjata pelumpuh itu, terselip sebuah tantangan besar yang menguji nyali dan integritas institusi Bhayangkara di wilayah tersebut.

“Tindakan tegas itu kami apresiasi penuh. Bagus itu ditembak mati kalau memang mereka melawan tugas. Jangan sampai ada lagi nyawa anggota kepolisian yang melayang sia-sia saat bertugas di lapangan. Kalau memang melawan secara terukur, habisi saja!” tegas Septa Aditya Aslam, S.H., M.H., Peneliti Center for Legal Policy and Digital Dynamics (CLPD) / Pusat Kajian Kebijakan Hukum dan Dinamika Digital, sekaligus praktisi hukum.

Meski mengacungi jempol nyali aparat di jalanan, Septa mengingatkan bahwa peluru hanya menghentikan satu pelaku, bukan ekosistem kejahatannya. Kepolisian, menurutnya, harus punya nyali ekstra untuk membedah anatomi penyebab para pelaku ini nekat merampas harta hingga nyawa.

Ia membedah profil miris para pelaku kejahatan jalanan saat ini. “Coba cek penyebabnya, kenapa mereka menjadi pembegal? Apakah karena terjerat narkoba? Profil mereka ini jelas: sudah banyak yang tidak sekolah, hidup miskin tapi banyak gaya, lalu akal sehatnya makin hancur kena narkoba dan judi online. Makanya, polisi harus berani tangkap bandar narkobanya, berantas habis judi online-nya!” cecar Septa dengan nada kritis.

Secara spesifik, Septa menyoroti wilayah asal dan penangkapan para komplotan tersebut, yakni Pesawaran dan Lampung Timur. Ia melempar tantangan menohok yang mempertanyakan alasan aparat seolah kesulitan mengendus “ikan besar” di kedua wilayah tersebut.

“Berantas tuntas jaringan narkoba dan judi online yang ada di Pesawaran dan Lampung Timur! Masa kepolisian tidak tahu siapa bandarnya? Mereka itulah akar bakal munculnya begal-begal baru. Jangan penegakan hukum ini hanya sebatas tangkap case by case. Kalau cuma begitu, siklusnya berulang lagi: begal mati, tapi besoknya anggota kepolisian kita yang jadi korban tembak lagi,” ujarnya.

Septa merasa miris melihat anggota reserse di lapangan yang sudah kelelahan bertaruh nyawa memburu pelaku, sementara para dalang kejahatan tetap leluasa berbisnis.

Di ujung kritiknya, Septa melontarkan kecurigaan yang menantang integritas kepolisian daerah setempat. Ia mendesak pucuk pimpinan Polda Lampung untuk membongkar tuntas hulu kejahatan ini, dan memastikan tidak ada parasit di dalam institusinya.

“Polisi di lapangan sudah capek-capek memburu, tapi yang me-back up dan bandar-bandar besarnya dibiarkan. Saya meminta kepada Kapolda, berani tidak bongkar jaringan di Pesawaran dan Lampung Timur itu? Atau memang ada oknum yang dapat ‘jatah’ di situ, sehingga penegakan hukum hanya menyentuh hilirnya saja? Jangan sampai yang ditangkap hanya sebatas kroco atau penjahat kampungan, sementara hulunya dibiarkan. Penyebab struktural ini harus berani dihabisi!” pungkas Septa menantang.

Exit mobile version