Petani Semangka Jaya Sakti: Embung dan Irigasi Jadi Penopang Hasil Panen di Musim Kemarau

Lampung Tengah – Ungkapkasus.Id

Dwi, petani semangka asal Dusun 3, Kampung Jaya Sakti, Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah, telah menekuni budidaya semangka selama kurang lebih 10 tahun. Berbekal pengalaman tersebut, ia memahami seluruh proses budidaya, mulai dari penyemaian benih hingga masa panen.

Dwi menjelaskan bahwa benih semangka disemai selama sekitar tujuh hari sebelum dipindahkan ke lahan. Setelah ditanam, tanaman membutuhkan waktu sekitar dua bulan hingga siap dipanen, dengan perawatan yang baik.

“Benih semangka kami semai selama tujuh hari. Setelah dipindahkan ke lahan, sekitar dua bulan sudah bisa dipanen,” ujar Dwi.

Menurutnya, musim kemarau menjadi tantangan utama bagi para petani semangka. Keterbatasan air membuat pertumbuhan tanaman tidak seoptimal saat musim hujan sehingga hasil panen cenderung menurun.

Meski demikian, keberadaan bendungan atau embung serta jaringan irigasi menjadi penyelamat bagi para petani. Pasokan air dari fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, sehingga kebutuhan air tetap terpenuhi dan tanaman dapat tumbuh dengan baik.

“Kalau musim kemarau hasil panen memang kurang maksimal. Untungnya ada bendungan atau embung dan saluran irigasi yang membantu menyediakan air, sehingga petani masih bisa menyiram tanaman semangka,” kata Dwi.

Selain menghadapi kendala cuaca, para petani juga dibebani tingginya harga pupuk yang membuat biaya produksi semakin meningkat. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya keuntungan yang diterima petani saat panen.

Dwi berharap pemerintah terus memberikan perhatian kepada sektor pertanian, terutama dengan menjaga ketersediaan pupuk yang terjangkau serta meningkatkan pembangunan dan perawatan embung maupun jaringan irigasi. Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting untuk menjaga produktivitas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kampung Jaya Sakti.(Darwis/Bambang)

Exit mobile version