
Pesisir Barat, Ungkapkasus.id-
Warga Mendesak Pemerintah daerah untuk memperbaiki bendungan way bambang agar petani sawah mendapatkan keadilan sebagaimana yang di Harapan ratusan kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani sawah di Pekon Tanjung Kemala, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat lampung sudah sepuluh tahun menunggu pembangunan tiba karena kesal di janjikan trus oleh pemerintah tidak akan di perbaiki sampai saat tidak kunjung tiba pada ahirnya keluhan tersebut mencuat ke publik jum,at (19/06/2026)
Akibat kerusakan bendungan tersebut, sawah-sawah yang dulunya menjadi kesejahteraan masyarakat berubah menjadi tangisan semata karena kekurangan bahan pangan padi di wilayah bangkunat Para petani terpaksa beralih menanam jagung walaupun hasilnya menurun jauh di banding menanam padi akibatnya masyarakat kehilangan lahan usaha yang memadai perhatian Pemerintah sangat di pentingkan

Tak sedikit keluhan dari mereka kini terlilit utang dan kesulitan untuk bangkit kembali kalau bendungan itu tidak di perbaiki oleh pemerintah daerah provinsi dan pusat
Peratin tanjung kemala Alpian Di konfirmasi di rumah kediamannya Menyebutkan kami sebagai aparat pekon sudah membuat peraposal bukan sekali dua kali dan sudah di tembuskan kepada pemerintah daerah Sampai saat ini belum di resfon secara berkelanjutan menurudnya bukan masyarakat itu sendiri yang mengeluhkan terkait kerusakan bendungan tersebut termasuk kami juga sebagai pemerintah pekon merasakan hal yang sama ujar peratin

“Kami hanya terus dijanjikan. Tapi janji itu tak pernah menjadi kenyataan. Sementara nasib petani kami terus terburuk, sehingga berpotensi beralih menjadi petani jagung walaupun hasilnya tidak memadai” ujar Alpian.
Alpian menceritakan keluhannya kepada awak media terkait Bendungan Way Bambang, yang terletak di wilayah Pekon Tanjung Kemala, dulunya mampu mengairi sekitar 120 hektar lahan pertanian sawah Kontribusinya terhadap perekonomian warga sangat besar, bahkan mencapai hingga 80 persen pendapatan masyarakat desa kini menurun pantastis akibat bendungan tak lagi berpungsi selama sepuluh tahun belakangan ini

Alpian merasakan kesedihan melihat nasib warganya kusus petani sawah di wilayah yang beliau pimpin, di sampaikannya lagi dulu ketika lahan masih berupa sawah aktif sebelum bendungan jebol pendapatan petani dari hasil gabah dapat mencapai 36 juta rupiah per hektar dalam sekali panen, sekarang semenjak petani beralih menanam jagung akibat suplai air tak ada, pendapatan petani hanya berkisar antara 10 hingga 13 juta rupiah per hektar dalam sekali panen, kerugian petani berkisar hingga 21 juta rupiah per sekali panen” ujar Alpian kepada awak media
Kini, Alvian sebagai peratin sekaligus ketua apdesi kecamatan bengkunat dan para petani hanya bisa berharap agar pemerintah membuka mata dan segera mengambil tindakan nyata kepada warga kami di kecamatan bangkunat agar secepatnya mengambil tindakan nyata untuk menuju masyarakat sejahtra. Bersama peratin dan masyarakat meminta dengan sangat hormat kepada pemerintah daerah provinsi dan pusat untuk bisa turun langsung menyapa nasib rakyat petani agar secepatnya pembangunan bendungan di prioritaskan secara tepat dan cepat harapan masyarakat bengkunat wabil husus masyarakat pekon tanjung kemala
(Zainal Abidin)




