Pringsewu—Ungkapkasus.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pekon Klaten, Kecamatan Gadingrejo, menuai sorotan tajam. Sekitar 115 balita penerima manfaat dilaporkan menerima makanan yang dinilai tidak layak dan jauh dari standar gizi.
Salah satu ibu balita berinisial P mengungkapkan kekecewaannya secara langsung. “Ini untuk balita loh, kok isinya seperti tepung dan kulit ayam.
Tidak pantas untuk anak kecil,” ujarnya. Ia menilai menu tersebut tidak mencerminkan makanan bergizi dan terkesan asal-asalan.
Dari pantauan di lapangan, paket MBG berisi nasi putih, potongan ayam yang didominasi kulit, sayuran seperti kecambah dan kacang panjang, serta gorengan berbahan tepung.
Komposisi ini dinilai minim protein berkualitas dan tidak sesuai untuk kebutuhan tumbuh kembang balita.
Keluhan warga ini juga ditegaskan oleh Kepala Pekon Klaten, Ngadek.
Saat dikonfirmasi, ia menyatakan kekecewaannya. “Saya kecewa atas laporan dari masyarakat. Warga saya, sekitar 115 balita penerima manfaat program MBG, justru diberikan makanan seperti itu.
Saya berharap pihak-pihak yang bertanggung jawab dapat benar-benar bertanggung jawab dalam proses pemberian makanan ini kepada warga saya,” tegasnya.
Jika terbukti terjadi kelalaian atau kecurangan, penyedia maupun pelaksana program dapat dikenai sanksi tegas.
Secara administratif, mulai dari teguran, pemutusan kontrak, hingga blacklist dari proyek pemerintah. Bahkan, apabila terdapat indikasi penyimpangan anggaran, dapat dijerat Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.
Sementara itu, jika makanan tidak memenuhi standar kesehatan dan membahayakan balita, pelaku juga berpotensi dijerat Undang-Undang Kesehatan serta Perlindungan Konsumen.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak perusahaan penyedia MBG belum dapat dimintai keterangan. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan resmi terkait kualitas makanan yang dibagikan.
Warga mendesak adanya evaluasi menyeluruh dan tindakan tegas. Program MBG seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi, bukan justru menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat.












