Sekda Lamsel Akui Ada Anggaran Tanggap Darurat, Namun Tak Tahu Besarannya Petani Palas Menjerit.

Lampung Selatan, Ungkapkasus.id

‎— Kecamatan Palas, yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Kabupaten Lampung Selatan, kembali dilanda banjir. Ratusan hektare persawahan milik petani terendam akibat meluapnya Sungai Way Pisang. Penanganan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan pun dinilai berjalan lamban.

‎Banjir dipicu jebolnya tanggul penangkis Sungai Way Pisang di Desa Pematang Baru, Kecamatan Palas. Hingga satu bulan pascakejadian, belum terlihat penanganan signifikan di lokasi tersebut, sementara tanggul dilaporkan telah jebol hingga tiga kali.

‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, alat berat jenis ekskavator baru diturunkan ke lokasi pada Selasa (3/2/2026). Namun, alat tersebut belum dapat difungsikan karena mengalami kerusakan. Pada waktu yang bersamaan, air Sungai Way Pisang kembali meluap dan menggenangi area persawahan warga.

‎Belum diketahui secara pasti apakah ekskavator tersebut merupakan bantuan dari Pemkab Lampung Selatan atau dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Provinsi Lampung.

Kondisi berbeda terlihat di wilayah persawahan Palas bagian barat. Di wilayah tersebut, penanganan dinilai lebih cepat setelah ekskavator bantuan BBWS bekerja selama kurang lebih setengah bulan.

‎“Bantuan langsung dari BBWS. Setelah selesai di sini rencananya pindah ke Desa Bandan Hurip. Tapi sifatnya hanya tanggap darurat, bukan normalisasi,” ujar perwakilan kelompok tani Palas bagian barat.

‎Sementara itu, bantuan dari Pemkab Lampung Selatan baru terlihat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang menurunkan perahu karet untuk membersihkan gulma di sungai. Kegiatan tersebut dilakukan secara swadaya bersama masyarakat.

‎Perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Palas bagian barat mengatakan bahwa pihaknya berharap ada penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan dari pemerintah daerah.

“Untuk bantuan dari Pemkab Lampung Selatan baru BPBD yang turun waktu itu membersihkan gulma secara swadaya. Kami juga mengajukan bantuan perahu agar ke depan bisa membersihkan gulma secara mandiri,” katanya.

‎Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Selatan, Supriyanto, S.Sos., M.M., menyatakan bahwa anggaran tanggap darurat bencana sebenarnya tersedia, meskipun ia tidak mengetahui secara rinci besarannya.

‎“Ada. Saya tidak ingat berapa besarannya. Tanggap darurat bencana itu bukan hanya banjir, ada juga puting beliung. Kalau masuk kategori bencana, anggaran bisa dikeluarkan sesuai kebutuhannya,” ujar Supriyanto usai kegiatan Musrenbangcam Palas di Desa Pulau Jaya, Senin (2/2/2026).

‎Ia menjelaskan bahwa penanganan Sungai Way Pisang saat ini berada dalam kewenangan BBWS.

‎“Yang disampaikan Bu Camat tadi itu kewenangannya ada di BBWS. Sekarang musim hujan ekstrem. Penanganan tetap berjalan, alat berat sudah turun. Hari ini juga kami rapat untuk membahas penyelesaiannya,” katanya.

Meski demikian, Supriyanto kembali menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti besaran anggaran tanggap darurat yang telah atau akan direalisasikan.

“Anggarannya ada, tapi saya tidak tahu besarannya berapa,” ujarnya.

‎Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait penyaluran anggaran tanggap darurat, mengingat banjir terus berulang dan lahan pertanian petani kembali terancam. Pemkab Lampung Selatan pun dinilai lambat merespons keluhan petani di wilayah yang selama ini digadang-gadang sebagai lumbung pangan daerah.(Joe)