Lampung Selatan,Ungkapkasus.id
— Setelah sekitar 25 tahun tidak tersentuh pembangunan pemerintah, warga Dusun Lebung Baru, Desa Sukabakti, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, membangun jalan penghubung antar Kecamatan Palas dan Kecamatan Penengahan secara swadaya.
Pembangunan jalan cor sepanjang kurang lebih 100 meter itu dilakukan bersama warga Dusun Selapan, Desa Rawi, Kecamatan Penengahan. Jalan tersebut merupakan akses vital yang setiap hari digunakan sekitar 80 kepala keluarga (KK) untuk menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pusat kota, serta mengangkut hasil pertanian.
Selama puluhan tahun, warga terpaksa melewati jalan terjal dan rusak parah yang kerap menyulitkan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi jalan yang licin dan curam sering membuat kendaraan gagal melintas.
“Kalau lewat jalan itu, mobil pribadi dan truk bannya cuma muter, nggak bisa nanjak. Truk tanpa muatan pasti nggak bisa lewat. Harus ada muatan biar ada tekanan,” ujar Selamet, warga Lebung Baru.
Ia menambahkan, kondisi tersebut sangat menyulitkan warga dalam keadaan darurat. Menurutnya, jika ada warga yang sakit atau hendak melahirkan, mereka harus melewati jalur alternatif yang memutar cukup jauh.
“Kalau ada yang mau melahirkan atau sakit, kasihan. Harus muter lewat jalan lain, bisa sampai setengah jam,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Budibakti sekaligus Kepala Dusun Lebung Baru, Supri, mengatakan bahwa pihaknya telah berulang kali mengusulkan pembangunan jalan tersebut kepada pemerintah desa, namun belum pernah terealisasi.
Menurut Supri, jalan tersebut merupakan jalan poros penghubung dua kecamatan yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan.
“Itu jalan poros Palas–Penengahan yang sudah kami usulkan setiap tahun. Sudah 25 tahun belum ada pembangunan sama sekali. Akhirnya kami berinisiatif membangun dari swadaya masyarakat dan bantuan donatur,” ujar Supri, Minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan, seluruh proses pembangunan dilakukan secara gotong royong tanpa bantuan pemerintah. Tenaga kerja sepenuhnya berasal dari masyarakat, sementara material dikumpulkan dari para donatur.
“Tenaga semua dari masyarakat, tidak ada bantuan pemerintah. Untuk material, kami cari donatur dari pengusaha-pengusaha di Desa Sukabakti,” jelasnya.
Dukungan, kata Supri, juga datang dari berbagai kalangan masyarakat.
“Ada guru yang menyumbang semen karena sering lewat jalan itu. Warga sekitar juga banyak yang bantu material dan tenaga. Alhamdulillah jalannya bisa dibangun,” tambahnya.
Namun demikian, pembangunan jalan tersebut belum sepenuhnya rampung. Material yang tersedia baru cukup untuk membangun satu jalur selebar satu meter.
“Baru sekitar 50 meter yang terbangun, materialnya sudah habis. Masih butuh donatur lagi supaya bisa dibangun dua tapak. Apalagi air untuk ngecor jaraknya jauh, sekitar 500 meter dari rumah saya,” pungkas Supri.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan memberikan perhatian serius, mengingat jalan tersebut merupakan akses penghubung antar kecamatan yang sangat dibutuhkan masyarakat.(joe/yg)












